Virtual Market Unik Korea, Belanja Cukup Bermodal Smartphone


Korea adalah salah satu negara sibuk di dunia. Oleh karena itu, untuk berbelanja saja merupakan hal yang cukup menyita waktu. Namun hal tersebut berubah ketika sebuah terobosan baru dalam dunia belanja terjadi.
Korea Selatan memiliki supermarket unik yang disebut Virtual Supermarket. Dan supermarket unik ini bisa dikatakan sebagai yang pertama di dunia. Dengan belanja di tempat ini, konsumen mendapatkan banyak manfaat. Selain hemat waktu, hemat tenaga, ramah lingkungan dan lebih efisien.

Pembeli tinggal menggunakan smartphonenya untuk membaca barcode dari produk yang mereka inginkan. Kemudian setelah melakukan pembayaran, barang akan diantar sampai ke rumah, Bila pembeli sering pulang telat, bisa meminta dikirim pada jam yang diinginkan.

Hal ini disambut sangat baik oleh buyer di sana karena tidak harus menggunakan troli, mengangkat banyak barang saat bepergian dan tidak dibutuhkan tempat yang besar untuk supermarket virtual ini. Bila kita ingin membeli produk yang sama, tidak perlu datang ke supermarket ini lagi. Cukup kirimkan lagi barcode yang sudah dimiliki, lakukan pembayaran dan barang akan dikirimkan ke rumah Anda.

Supermarket virtual ini hanya berupa media kaca yang ditempeli lembar katalog produk. Bentuknya memang sekilas mirip dengan etalase supermarket, padahal yang Anda lihat hanya gambarnya saja. Supermarket ini adalah milik Home Plus, yang berusaha menjadi market nomor 1 tanpa harus menambah cabang pertokoan di Korea, setelah sempat menjadi market nomor 2. Kini berkat sistem belanja yang unik, Home Plus menjadi pusat belanja kebutuhan harian yang paling sering dikunjungi.

Sebenarnya sistem ini adalah perpaduan antara belanja langsung dengan belanja online. Wah, seru juga ya kalau di Indonesia ada tempat belanja seperti ini?


Sumber: http://www.vemale.com/ragam/25199-uniknya-virtual-market-korea-belanja-cukup-bermodal-smartphone.html

Ini Rahasia Restaurant D’Cost Bisa Cepat Berkembang

Cari Nama Dulu, Baru Untung

Siapa yang tidak kenal D’Cost, restoran seafood ini cukup fenomenal di jagat industri kuliner. Dalam waktu relatif singkat, perusahaan ini sudah dikenal luas oleh masyarakat dan restorannya selalu ramai dikunjungi para penikmat seafood. Perusahaan ini bukanlah perusahaan triliunan rupiah yang bisa mengeluarkan puluhan miliar untuk beriklan di televisi. Namun, perusahaan ini punya kiat untuk bisa populer dengan bujet terbatas.

D’Cost selalu mengeluarkan promosi diskon gila-gilaan. Contohnya, Makan Sepuasnya, Bayar Sesukanya, Diskon Sesuai Umur, sampai Diskon Gerombolan. Makin banyak gerombolan yang datang, makin banyak diskonnya. Kalau pemiliknya bilang, “Hanya orang bodoh saja yang mau melakukan promo ini”.

D’Cost melakukan sejumlah strategi yang boleh dikata berani keluar dari pakem-pakem yang ada. Serangkaian promonya yang unik dan sama sekali berbeda memang menarik untuk diikuti. D’Cost seperti membawa petunjuk baru dalam berbisnis restoran. Akan tetapi, apa yang dilakukan oleh perusahaan yang sudah berumur enam tahun ini sejatinya dapat pula dipraktikkan oleh bisnis-bisnis lainnya.

Aroma kreativitas selalu tercium pada setiap strategi yang dijalankan D’Cost. Ciri khasnya ialah selalu menimbulkan rasa penasaran dan membuat geger. Tentu saja kesuksesan D’Cost dalam melakukan strategi pemasaran ini tak lepas dari tangan dingin Sang Nahkoda PT Pendekar Bodoh (D’Cost), David Vincent Marsudi. Untuk mengetahui lebih jauh tentang gaya kepemimpinan dia, bisa disimak hasil wawancara dia dengan jurnalis Majalah MARKETING, Andri Darmawan dan fotografer Asep Tony. Berikut petikannya.

Bisa diceritakan awal-awal terjun ke bisnis restoran seafood?

Begini, enam tahun silam, seafood itu sering dipersepsikan mahal. Padahal, makanan ini termasuk sehat dan lezat. Dari situ kami berpikir, bagaimana bisa menyediakan makanan seafood seharga ibu masak di rumah sehingga bisa dinikmati oleh semua segmen. Muncullah D’Cost ini.

Tantangan pertama yang dihadapi ketika itu?

Proses pengadaan bahan baku. Ini yang paling sulit. Terus terang latar belakang saya dan sebagian rekan di D’Cost dari properti. Seafood itu berbeda dari makanan berbahan baku ayam atau sapi yang jumlahnya melimpah. Seafood itu seasonally, begitu musimnya tiba, harus membeli sebanyak mungkin untuk persediaan. Setelah dibeli, persoalan berikutnya penyimpanan. Setelah kami pelajari, ternyata ada metodenya. Jadi, bila disimpan pada suhu -25ºC, bahan baku akan tahan 3 bulan, tetapi kalau ditaruh pada suhu 4ºC, bisa tahan 3 hari, dan apabila ditempatkan pada suhu ruangan cuma tahan 3 jam. Jadi, 3 bulan, 3 hari, dan 3 jam. Kalau barangnya fast moving kami taruh di suhu 4ºC. Dari ilmu ini kami bisa memasok bahan baku secara aman ke setiap cabang hingga sekarang. Kemudian, untuk bagian lainnya, tidak ada masalah karena manajemennya sama dengan bisnis-bisnis pada umumnya.

Lokasi pertama D’Cost di mana?

Kemang, Jakarta Selatan. Sengaja kami pilih di sana agar menarik perhatian masyarakat. Sebab strategi kami ialah cari nama dulu baru untung. Seperti yang kita ketahui, Kemang merupakan daerah elite, umumnya restoran yang berdiri di sana adalah restoran premium. Nah, tiba-tiba muncul D’Cost, restoran harga kaki lima, dengan mutu bintang lima. Alhasil, gegerlah masyarakat sekitar sana. Dari segi nama perusahaan pun kami buat unik, yakni PT Pendekar Bodoh. Mengapa kami menggunakan nama yang agak nyeleneh, karena prinsip memilih nama agar mencuri perhatian hanya ada dua cara, nama yang bagus sekali, atau sebaliknya. Dan kami pilih yang sebaliknya.

Tetapi, setiap nama pasti memiliki filosofi, bukan?

Benar, mengapa PT Pendekar Bodoh? Umumnya sebagai konsumen, kita pasti ingin membeli barang bagus dengan harga murah, dan sebagai pengusaha ingin menjual barang bagus dengan harga yang mahal itu lazim. Nah, filosofi bisnis kami adalah give and receive. Memberi dulu, nanti pasti akan menerima. Pengusaha semacam ini menurut kami bodoh, tetapi jiwanya pendekar karena bertujuan membantu orang, wong memberi kok. Karena itu, nama PT Pendekar Bodoh dipilih. Sama halnya PT Bocuan Gapapa yang menaungi brand terbaru kami, D’Stupid Baker. Prinsip kami memulai bisnis itu tidak untung dulu tidak apa-apa, yang penting nama tenar. Bila skala ekonomi usaha semakin besar, keuntungan nanti pasti akan datang. Contoh, Google dan Yahoo, mereka perusahaan raksasa yang dimulai dari memberi gratis dulu kepada orang-orang.

Strategi D’Cost banyak yang terkenal nyeleneh, boleh tahu alasannya?

Nyeleneh-nya bukan asal nyeleneh. Seperti yang sudah dijelaskan, filosofi bisnis kami adalah give and receive, maka dalam membuat strategi pun harus too good to be true. Artinya apa? Strategi tersebut harus memiliki nilai. Contoh program “Diskon Sesuai Umur” yang membuat anak-anak semakin cinta pada orangtua, terutama di hari Selasa. Dengan program ini, keluarga yang makan di D’Cost bisa mendapat diskon berdasarkan umur tertua dari anggota keluarganya. Misal, yang paling tua berumur 70 tahun, maka diskonnya 70%.

Kemudian, untuk segmen anak muda, kami juga ada program “Diskon Sesuai Umur”. Pelanggan cukup membayar sesuai umur mereka. Misal, Anda makan habis Rp10.000, dan umur Anda 20 tahun, maka yang dibayar cukup 20% saja, atau Rp2.000. Lalu, untuk karyawan yang rata-rata berumur di bawah 30 tahun, kami menghadirkan D’Cost Quick. Saat ini lokasinya masih di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta. Yang spesial dari sini adalah paket menu Rp10.000 plus es teh manis. Paket menu ini sengaja dibuat karena kami menyadari bahwa rata-rata dari mereka adalah first jobber yang uang makannya belumlah seberapa.

Program lain yang tak kalah unik misalnya “Uang & Doa”. Di setiap hari keagamaan, kami adakan program untuk pelanggan cukup menulis doa di secarik kertas. Doanya terserah, lalu berikan kepada pihak D’Cost, maka itu sudah setara dengan membayar 50%. Ini dilakukan hanya pada cabang-cabang tertentu, yang informasinya bisa dilihat pada website, Facebook, serta Twitter D’Cost.

Apa kunci membuat promo yang menarik?

Simpel, posisikan diri Anda sebagai konsumen. Gali kebutuhan dasar mereka, lalu buat program yang memfasilitasi kebutuhan tersebut. Dan, upayakan agar membuat promo yang konsumen tidak kuasa menolaknya. Salah satu contoh program kami yang cukup menuai respons positif adalah Program Paket Nikah, “Hamil Dulu Baru Bayar”. Program ini menyedot minat yang besar. Misinya ingin membantu pasangan menikah yang ingin resepsi tetapi tidak punya biaya. Program ini berlangsung setiap hari Minggu di D’Cost WTC Mangga Dua, Jakarta. Syaratnya sangat mudah, cukup fotokopi KTP dan surat nikah, lalu ajukan ke kami.

Sampai sekarang, apakah sudah ada yang membayar?

Sejak diluncurkan di awal tahun 2012 sampai sekarang belum ada yang membayar. Apakah kami pusing? Tidak, karena tugas D’Cost hanya menjalankan misi sebagai perusahaan F&B yang membawa manfaat bagi masyarakat. Selebihnya biar “departemen Tuhan” yang mengatur.

Apa yang menginspirasi Anda melakukan itu?

Kesadaran bahwa di atas segalanya, Tuhan-lah yang mengatur dan menjadi bos saya. Ada salah satu buku yang cukup menginspirasi bagi saya dan teman-teman, berjudul God is My CEO, penulisnya Larry Julian. Isi buku tersebut menjelaskan, kalau CEO-nya Tuhan, kebijakan apa yang akan diambil? Ini menjadi suatu tantangan bagi pebisnis dalam mengambil keputusan di segala bidang. Pikirkan apa yang Tuhan inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Akan ada banyak kejutan bila ini dapat dilakukan dengan ikhlas, bahkan akan mendobrak hukum ekonomi yang dipelajari selama ini.

Apa strategi di tahun depan?

Yang jelas, kami masih akan menawarkan promo-promo unik. Beberapa yang sudah berjalan masih terus dipertahankan, seperti Up to You Price, Makan Sesukanya, Bayar Sesukanya pada setiap pembukaan cabang baru di hari Rabu selama sebulan. Program ini sudah enam tahun. Lalu, yang kedua, promo Diskon Umur, ini juga sudah berjalan tiga tahun lebih, dan masih akan dijalankan tahun depan. Bila di tahun ini kami menelurkan dua brand baru, yaitu D’Cost Quick dan D’Stupid Baker, di tahun depan akan tetap sama dengan merilis brand-brand baru yang bergerak di sektor usaha F&B yang oleh masyarakat umumnya dikenal mahal, akan kami buat menjadi makanan yang terjangkau dengan rasa berani bersaing.

Apa rencana D’Cost selanjutnya?

Yang paling dekat dulu, kami akan membuka 13 cabang dari 57 cabang di tahun 2013, dan membuka 50 D’Cost Quick, serta 50 D’Stupid Baker. Kami juga mau menawarkan franchise. Konsepnya akan berbeda dari franchise yang lain. Gambarannya, kami akan mengawinkan franchise dengan properti. Jadi, selain usaha, para mitra bakal memiliki aset berupa properti. Keuntungan yang didapat ganda, dari profit bisnis, dan gain investasi properti. Orang menjalankan bisnis restoran itu keuntungannya belumlah besar bila belum memiliki properti sendiri. Dan, nilai investasi properti pun cenderung lambat bila hanya “dijemur”, atau tidak difungsikan sama sekali. Perpaduan ini kami yakin akan menjadi sesuatu yang inovatif dan menguntungkan bagi mitra. Nah, untuk jangka panjang, nantinya di tahun 2015, kami ingin go international, lalu pada tahun 2018, mudah-mudahan sudah bisa go public.

Silent Leadership

Seorang pemimpin punya potensi untuk berkomunikasi lebih efektif dengan komunikasi non-verbal dibanding komunikasi verbal, demikian yang dikatakan John Baldoni. Dalam tulisan di blog-nya, hbr.org, ia pun menambahkan, “yang penting ketenangan dan keyakinan”.

Baldoni menekankan bahwa pemimpin dapat menyampaikan maksudnya melalui isyarat non-verbal. Namun, ia menyesalkan bahwa seringnya isyarat non-verbal disalahgunakan untuk menampilkan gangguan, keacuhan atau bahkan ketidak-sukaan.

Dia memperingatkan: "Bagi mereka yang memegang suatu tanggung jawab, terutama di posisi yang sangat senior, harus ekstra hati-hati tidak hanya dalam kata-kata tapi juga dalam bahasa tubuh mereka".

Berangkat dari hal itu, Baldoni menawarkan beberapa tips tentang silent leadership

1. Rekomendasi pertamanya adalah hanya sekedar mengendurkan otot-otot wajah. Ia pun bercerita: "Saya pernah bekerja dengan seorang engineer berbakat yang memiliki afinitas yang nyata untuk mengajar orang lain. Tapi karena ia masih baru di perusahaannya, orang-orang tidak mengenal dia. Dan ketika orang-orang melihatnya, ia selalu berada di ruangannya dengan wajah meringkuk dan tampak sangat intens. Bahasa tubuhnya seolah berkata, 'menjauhlah dari saya!' ".

Baldoni menjelaskan bahwa memang ekspresi wajah disebabkan oleh konsentrasi yang mendalam. Namun, masalah ini bisa diperbaiki dengan senantiasa mengingatkan diri untuk mengendurkan otot-otot wajah dan ini membantunya tampil lebih akrab. Penulis juga menganjurkan untuk melatif ekspresi yang cocok di depan cermin.

2. Rekomendasi kedua adalah meminta seorang teman untuk mengamati ekspresi anda. Baldoni menyarankan untuk meminta seorang rekan terpercaya untuk mengamati bahasa tubuh Anda dalam sebuah pertemuan misalnya, terutama dalam suatu pertemuan yang intens. Ia juga bisa diminta untuk mencatat manakala ada kebosanan, kejengkelan, atau bahasa yang salah ditangkap dalam pertemuan-pertemuan itu.
Penulis juga menyarankan: "Ingatlah bahwa orang tidak hanya mendengarkan apa yang Anda katakan, tapi mereka juga melihat bagaimana Anda membawa diri ketika Anda mengatakan perkataan anda".

3. Rekomendasi yang ketiga Baldoni adalah bicara secukupnya. Doronglah orang untuk berbicara lebih dulu dan bebas mengungkapkan ide mereka, sementara seorang pemimpin bisnis hanya perlu memberi sisipan ketika mereka memiliki sesuatu yang besar untuk ditawarkan.

Ia juga mengatakan, "Ketika bulu terbang, yang membuat ia menjadi perhatian orang adalah sebuah keyakinan yang tenang. Jangan sekali-kali mengangkat suara Anda. Sebaliknya, setelah Anda memiliki perhatian orang, bicaralah dengan tenang dan penuh keyakinan. Tidak ada pancaran kekuatan yang lebih kuat selain emosi yang terkendali ketika dalam suasana dimana orang-orang saling berteriak satu sama lain".

Namun ia menambahkan, bahwa menunjukkan emosi itu hanya benar dan tepat diterapkan ketika ada isu serius yang dipertaruhkan. Yaitu dengan menunjukkan bahwa pemimpin itu berhak untuk berkomunikasi dengan otoritas dan kekuatan, sehingga mereka paham akan pentingnya momen tersebut.

7 Strategi Bisnis Yang Wajib Dimiliki Entrepreneur

Menjamurnya berbagai peluang usaha baru di Indonesia, ternyata tidak hanya menuntut kreativitas dari para pengusaha untuk terus bisa berkarya, namun juga mengharuskan sebagian besar dari mereka untuk mulai menyusun beberapa strategi bisnis yang jitu guna memenangkan persaingan yang ada. Ketatnya persaingan pasar, dan munculnya para pemain baru di berbagai penjuru negeri, membuat sebagian besar pelaku usaha di Indonesia harus siap bersaing dengan pelaku usaha lainnya guna mempertahankan eskistensi kerajaan bisnisnya.Karenanya, untuk membantu para pemula maupun para pelaku usaha dalam mempertahankan eksistensi bisnisnya, berikut ini kami informasikan 7 strategi bisnis yang wajib dimiliki entrepreneur sebelum akhirnya mereka terjun di tengah ketatnya persaingan pasar.



1. Berani berpikir kreatif dan segera mulai melangkah.

Modal utama yang perlu dimiliki seorang entrepreneur sukses adalah berani berpikir kreatif dan mewujudkan ide-ide gila yang telah mereka ciptakan. Modal kreatif saja ternyata tidaklah cukup. Sebagai seorang pengusaha, tentunya Anda dituntut untuk segera mulai melangkah dan menemukan cara paling efektif untuk segera mewujudkan mimpi-mimpi besar yang telah dicita-citakannya.



2. Mulailah dari lingkungan Anda

Tak jarang para pemula bersikap terlalu berlebihan dalam mencari sebuah ide bisnis. Mereka sering menginginkan bisnis yang bonefit, menghasilkan banyak keuntungan, namun tidak membutuhkan modal besar. Padahal, untuk menciptakan peluang bisnis yang potensial Anda bisa memulainya dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Contohnya saja seperti ide sang pengusaha sukses dari Grobogan yakni Rustono, yang sekarang ini berhasil menjadi juragan tempe di negara maju seperti Jepang.



3. Tetapkan biaya produksi yang proposional

Sebagai seorang pelaku usaha, tentunya Anda harus lebih jeli dalam menganggarkan biaya pengeluaran dan menyiapkan strategi pemasaran jitu untuk bisa mendatangkan penghasilan yang maksimal. Sebisa mungkin tekan biaya produksi agar harga jual yang Anda tawarkan kepada konsumen bisa terjangkau, dan keuntungan yang didapatkan semakin hari kian berlipat-lipat. Strategi inilah yang berhasil mengantarkan kesuksesan Waroeng Steak and Shake, karena dengan tagline “Bukan Steak Biasa”, sang pengusaha berusaha menawarkan menu kuliner serba steak dengan harga jual yang bersahabat dengan kantong konsumen yang rata-rata adalah para mahasiswa, pelajar, dan masyarakat menengah ke bawah.



4. Manfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas

Perkembangan teknologi dan informasi di era serba digital seperti sekarang ini, tentunya bisa Anda manfaatkan dengan baik untuk menjangkan peluang pasar yang lebih luas. Bila sebelumnya Anda belum menjamah pasar online untuk memasarkan produk Anda, maka tidak ada salahnya bila mulai sekarang Anda mengoptimalkan penggunaan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, website, dan lain sebagainya untuk mengurangi besarnya biaya iklan offline yang semakin tinggi serta menjangkau calon konsumen di berbagai belahan dunia.



5. Terus kembangkan brand Anda

Tak bisa kita pungkiri bila kekuatan sebuah brand masih sangat penting dalam mengembangkan sebuah usaha. Oleh karena itu, terus hidupkan brand bisnis Anda dan jagalah reputasinya agar semakin dikenal banyak orang dan disukai para pelanggan. Untuk menjalankan strategi tersebut, Anda bisa melengkapi profil perusahaan Anda dengan sejarah singkat mengenai pendirian usaha maupun kisah dibalik pembuatan produk unggulan yang menjadi brand utama bisnis Anda.



6. Tumbuhkan bakat berwirausaha

Setiap orang bisa menjadi pengusaha sukses apabila mereka mau dan mampu menumbuhkan bakat wirausaha yang ada dalam diri mereka. Berbekal niat, semangat, dan tekad yang cukup kuat, setiap orang bisa mendapatkan ilmu dan ketrampilan khusus tentang wirausaha melalui buku-buku atau majalah bisnis yang beredar di pasaran, mengakses informasi dari media internet, maupun bergaul dengan para pengusaha sukses yang bisa memotivasi diri Anda untuk terus maju dan merintis sebuah usaha.



7. Siap menghadapi berbagai resiko

Ketika menjalankan sebuah usaha, hadirnya sebuah hambatan, tantangan, maupun berbagai kendala yang muncul di tengah perjalanan usaha, menjadi salah satu resiko yang harus dihadapi para pelakunya. Karenanya, untuk menghadapi resiko tersebut, pastikan bahwa semua perencanaan bisnis Anda sudah dipersiapkan dengan matang agar munculnya sebuah resiko bisa diminimalisir sekecil mungkin.

Nah, ini dulu sedikit informasi tips bisnis yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca. Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat bagi semua lapisan masyarakat dan membantu para pemula yang tertarik menekuni dunia usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Jurus Jitu Menjalankan Bisnis Franchise Hingga Sukses

Siapa yang tidak ingin bisnis yang dijalankan menuai kesuksesan? Setiap pengusaha pasti menginginkan hal seperti itu. Tapi bagaimana caranya dan apa jurusnya agar menjalankan bisnis seperti bisnis franchise (waralaba) ini bisa sukses.
Starbuck merupakan salah satu kisah sukses waralaba yang terkenal  di dunia. Waralaba ini didirikan pada tahun 1971 dan hanya memiliki satu toko di Pike Place Market Seatle. Setelah menerapkan sistem waralaba, pada tahun 2006 Starbuck telah memiliki 8.000 gerai yang berlokasi di lebih dari 37 negara serta memiliki keuntungan hampir $3 miliar dollar AS.
Kita bisa melihat hebatnya menjalankan bisnis waralaba ini. Dengan menjual sebuah merek, rencana bisnis, dan keahlian pada pemilik bisnis regional. Maka menjalankan bisnis ini dapat meningkatkan keuntungan serta menjangkau pasar global tanpa mengalami peningkatan resiko secara signifikan.
Jumlah dan jenis waralaba (Franchisee) sangat beragam. Waralaba merupakan sebuah teknik yang digunakan oleh berbagai perusahaan mulai dari gerai makanan cepat saji seperti McDonald hingga jaringan hotel mewah seperti Hyatt.
Ada dua elemen kunci setiap waralaba yakni pemberi waralaba (franchiser) dan penerima waralaba (franchisee). Pemberi waralaba menjual merek terkemuka serta keahliannya kepada penerima waralaba yang kemudian mendirikan dan mengelola bisnis tersebut.
Untuk pemberi waralaba mendapatkan manfaat berupa kemampuan untuk meningkatkan keuntungan serta menjadi merek yang terkenal dan dipercaya di tingkat nasional atau global.
Sedangkan keuntungan yang didapatkan penerima waralaba adalah bahwa teknik ini dipercaya dapat mengurangi tingkat resiko. Waralaba juga lebih mempermudah bisnis karena tidak harus menciptakan rencana bisnis baru atau mengembangkan merek yang belum terkenal.
Walaupun sudah terbilang kuno, ide waralaba ini dihidupkan kembali di akhir abad ke-20, karena adanya keinginan yang kuat untuk menciptakan struktur bisnis yang terdesentralisasi. Pada tahun 1999, statistik menunjukan bahwa terdapat 540.000 waralaba di Amerika, di mana waralaba baru bermunculan setiap 6,5 menit pada setiap hari kerja.
Untuk di Indonesia sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yakni dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Lalu perkembangan selanjutnya pada tahun 1970-an, yakni dengan dimulakan sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memilki hak untuk memproduksi produknya.
Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat bagi para franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memilki kepastian hukum yang jelas, sehingga waralaba  berkembang pesat seperti di negara di AS dan Jepang.
Berikut penerapan untuk menjalan bisnis waralaba sehingga menjadi sukses yang di kutip dari buku 100 Ide Bisnis Terhebat.
  1. Pastikan untuk menyediakan layanan dan produk yang berkualitas secara konsisten di seluruh waralaba untuk memperoleh reputasi positif, stabil, terpercaya dari pelanggan.
  2. Mendirikan waralaba baru yang jaraknya terlalu dekat dengan waralaba sejenis yang sudah berdiri terlebih dahulu dapat beresiko terjadinya kanibalisasi terhadap salah satu waralaba dan mengakibatkan kehilangan pembeli. Walaupun hal ini dapat menjadi praktik bisnis positif, penting juga untuk mempertibibangkan akibatnya.
  3. Berikan kesempatan kepada penerima waralaba untuk mencapai tingkat indenpendensi yang lebih tinggi, yang membedakan mereka dari investor atau konglomerat pasif.
  4. Mintalah bantuan pengacara atau penasihat yang mumpuni dan berpengalaman jika kamu ingin menjual atau membeli sebuah waralaba. Kunci keberhasilannya adalah dengan memiliki produk atau layanan bisnis yang tepat, memahami rincian dengan baik, serta menyetujuinya dan bekerja sama.
Semoga kiat-kiat Bisnis Franchise ini, menjadi penyemangat bagi Anda untuk lebih berkembang lagi dalam menjalankan bisnis franchise.

Apakah Karyawan Bergaji Layak, Bagus Untuk Bisnis?

Apakah Karyawan Bergaji Layak, Bagus Untuk Bisnis?

Tanpa elemen karyawan, roda bisnis sebuah perusahaan tidak akan berputar. Layaknya aset, karyawan sepatutnya mendapatkan penghargaan yang layak dan ‘dilindungi’ dengan baik. Walaupun penghargaan tidak selalu berupa angka gaji, namun tak dapat dipungkiri angka menjadi salah satu faktor yang umumnya mendorong karyawan untuk bekerja lebih baik.
Dari sudut pandang perusahaan, gaji karyawan merupakan sebuah titik pertimbangan ‘apakah dengan gaji sekian besar si karyawan dapat memberikan pemasukkan lebih untuk perusahaan, bagaimana kalau tidak’. Jadi, apakah karyawan yang digaji dengan layak, bagus untuk bisnis?
Sudah bukan rahasia lagi bahwa di Amerika para pekerja ritel digaji kecil dengan pendapatan per tahunnya hanya 25.310 dolar AS berdasarkan Bureu of Labor Statistics. Hal tersebut pastinya dilakukan untuk meningkatkan marjin keuntungan.
Namun, Zeynep Ton, profesor dari MIT Sloan School of Management berargumen melalui artikel di Harvard Business Review bahwa dengan taktik yang seperti itu, biasanya hanya menjadi serangan balik untuk perusahaan.
Dengan memotong kekuatan sumber daya manusia – menggaji kecil – perusahaan mengalami penurunan performa yang akan mempengaruhi kepuasan konsumen dan menjadikannya masalah paling utama bagi perusahaan: penurunan penjualan.
Ton memaparkan contoh kasus Home Depot yang memotong jumlah karyawannya dan menggaji pekerja paruh waktu untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan. Dalam jangka waktu pendek, Home Depot berhasil meningkatkan keuntungan. Namun, lama kelamaan kepuasan konsumen menurun yang kemudian menurunkan angka penjualan bahkan menjadi negatif dalam beberapa tahun.
Ton berargumen bahwa dengan memberikan karyawan gaji yang baik, perusahaan akan menikmati hasilnya dalam jangka panjang.
Costco, salah satu ritel yang menggaji karyawannya dengan baik. CEO Costco, Craig Jelinek menyatakan bahwa perusahaannya  menghindari strategi memberikan gaji kecil pada karyawan. “Kami mengetahui bahwa meminimalkan perputaran karyawan dan memaksimalkan produktivitas, loyalitas, dan komitmen karyawan lebih menguntungkan dalam jangka panjang,”ujarnya
Pertanyaannya: Apa dasar petimbangan gaji yang baik? Tingkat pendidikan, standar hidup di suatu wilayah, pengalaman dan lamanya seorang karyawan bekerja di suatu perusahaan. Tentu gaji seorang kuli bangunan berbeda dengan gaji seorang pemasar lulusan sarjana. Gaji karyawan yang sudah bekerja selama 4 tahun tentu berbeda dengan gaji karyawan yang baru bekerja 2 tahun.
Mungkin untuk perusahaan yang baru berdiri akan sulit memberikan angka gaji yang mewakili kata ‘baik’ berdasarkan pertimbangan tersebut. Alternatifnya, upah minimal regional bisa menjadi patokan.
Apabila perusahaan memperlakukan karyawannya dengan baik layaknya sebuah aset, bukan hal yang tidak mungkin perusahaan akan semakin maju. Apabila karyawan sudah merasa bahwa perusahaan tersebut layaknya rumah yang memberikan perlindungan, karyawan akan betah dan bekerja lebih giat dan bukan tidak mungkin bersedia menjadi tameng apabila sewaktu-waktu perusahaan diterpa krisis.

Cara Membuat Franchise (Waralaba)

Ada beberapa pertanyaan dibawah ini yang biasa kita pikirkan pada saat berpikir cara membuat franchise. Kemudian akan kita jawab sesuai dengan pengamatan yang saya lakukan
  1. Setelah beberapa franchisor di Indonesia mempunyai “TRUST” di kalanganya, dengan mudah mereka membangun lebih dari 1 produk usaha franchise.
  2. Banyak di antara pengusaha pengusaha yang telah sukses dalam arti omzet penjualan produknya cukup histeria alis omzet melimpah, kemudian tidak membuka cabang atau pun mitra kerjasamnya.
  3. Alasan pingin banget mempunyai produk waralaba, tetapi tidak mempunyai produk waralaba sama sekali
  4. Mereka yang sudah memiliki produk unggulan bisa berpotensi di waralabakan, merasa takut tidak bisa membangun sistem, apalagi merasa gak bisa bikin SOP dan Manajemen Standart yang akan di tawarkan
  5. Ada rasa kekwatiran pada saat menawarkan potensi usaha waralaba, pihak mitranya tidak untung alias merugi
  6. Bahkan ada juga yang sudah memiliki beberapa cabang usahanya, ternyata gak bisa mempromosikan ke khalayak ramai

Mari kita jawab beberapa point diatas
Point pertama, kita lihat contoh franchisor sukses, kita ambil saja, Hendy si pemilik kebab turki baba rafi, saat ini sudah ada 3 produk yang di kembangkan oleh franchisor tersebut, ada piramizza, ayam bakar mas mono, dan produk kreasinya sendiri yaitu kebab turki (ini sepengetahuan saya, silahkan cek sendiri kebenaranya). Sebuah trust atau indonesia sebuah kepercayaan, ternyata memberikan sebuah peluang peluang usaha baru bagi Hendy. dan tentunya sekaligus termasuk salah satu yang ikut mengambil kebijakan kebijakan dalam manajemen produk waralaba orang lain tersebut. Dengan membangun trust, bisa di simpulkan akan banyak di lamar oleh pemilik pemilik produk, dimana produk orang lain tersebut sebenarnya sudah mentereng brandingnya. Cukup fantastis kan? hanya dengan trust membuat franchise yang ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya tinggal posting manajemen.

Point Kedua, adalah ketakutan tidak mampu berpikir untuk manajemen, atau bisa jadi si pemilik usaha tersebut dalam menangani beberapa outletnya sudah cukup kalang kabut, bukankan seorang pengusaha itu harus fredom, tanpa harus kalang kabut memenejemen usahanya. Jika di tanya, apakah usaha bapak di waralabakan?, oh gak pak, saya aja dengan usaha saya sudah cukup perpenghasilan dan tentunya saya akan capek lagi jika membangun usaha untuk di waralabakan. Kalau sudah begini, biasanya ada franchisor atau tangan tangan baru mencoba untuk membangun usaha waralaba produk pengusaha tersebut. Bayangin, usahanya sudah jelas ada, omzetnya cukup menarik, tinggal sedikit perjuangannya untuk di jadikan produk waralaba. lihat point 3 di bawah ini ya…

Point ketiga, bagi anda yang saat ini sangat antusias dan sudah memiliki paradigma bagaiaman enaknya dan mudahnya cara membuat franchise, maka yang seperti point 2 di atas adalah potensi anda. Hanya dengan pembagian atau sharing profit hasil usaha yang di waralabakan, bisa jadi anda sudah langsung memiliki produk usaha waralaba. Setiap daerah, sudah bisa dipastikan memiliki produk unggulan baik berbentuk makanan, minuman ataupun jasa. Jika produk unggulan tersebut tidak sama sekali di waralabakan, ambil potensi ini untuk segera di bangun franchise. Jadi cukup itu saja, tinggal anda membuat standart manajemen, standart beberapa SOP termasuk SOP produksi, SOP pelayanan, SOP manajemen dan lain lain yang diperlukan. Jika produk tersebut belum mempunyai branding, segera buatkan LOGO termasuk tag ataupun labelnya, yang sebelumnya hanya memakai gerobak apa adanya, nah coba bangun display outlet semenarik. Banyak saat ini pembuat gerobak waralaba yang cantik dan imut imut.

Point ke empat, nah ini yang ini kebanyakan yang dipikir mereka, bukankan saat mereka mengelola usaha sudah ada cara cara memenajemennya. Cuman, biasanya manajemen yang diterapkan hanya berdasarkan kebiasaan tradisional atau cukup di masukkan di pikiran. Sebagai contoh, jika membuat atau mengolah produk A, mereka biasanya disimpan di otak saja. Atau bagaimana mereka melayani pelanggan pelanggannya agar tertarik untuk membeli terus, ini pun kadang juga gak tertulis, cuman di angan angan saja. Padahal membangun sistem manajemen dan SOP yang kemudian menjadi sebuah manual book atau standart yang tertulis. Itu cukup menuliskan apa apa yang di kerjakan dari proses A sampai proses Z. Nah, karena biasanya pengusaha itu pemalas ( he he he), menulis adalah sesuatu yang butuh perjuangan mati matian. Padahal dengan sedikit mengeluarkan energi untuk itu, maka potensi penghasilan mereka akan cepat melejit bagai petir membahana. Termasuk bagaiaman mengelola perencanaan keungan usaha anda, banyak pihak pihak yang saat ini melayani jasa konsultan perencanaan keuangan, seperti

Point ke lima, perlu di ingat, semua bisnis itu beresiko. Kadang anda rugi kadang anda gagal. Dan hal ini sudah di pahami dengan jelas las.. oleh setiap insan pengusaha. Dengan produk yang sama, di tempat satunya sukses, bisa jadi di tempat lain nggak sukses. Tetapi sebagai seorang yang kemudian jadi franchisor, Jangan di kwatirkan dengan hal ini. Tetapi terus beri supprot bagi mitra mitra anda yang kebetulan tidak memberikan omzet yang seperti anda harapkan. Anda perlu melakukan evaluasi pada manajemen dan pemasaran mitra lokal anda yang ujung ujungnya menjadi sebuah harapan baru bagi mitra anda. Lakukan motivasi kepada mitra anda. Waralaba asing di indonesia ini juga banyak yang gulung tikar kawan……Waralaba waralaba lokal dengan branding yang besar juga banyak mitranya yang berguguran. Kenapa bisa seperti ini, banyak faktor seperti mitra tersebut tidak mematuhi peraturan peraturan ataupun SOP yang di berikan, Bisa jadi mitra anda curang, sebagai contoh yang seharusnya memakai produk standart dari pusat, kemudian membuat produk bahan sendiri, dengan harapan mitra tersebut lebih untung jika tidak order bahan standart dari pusat, cara memanejemen karyawannya yang tidak serius, cara memanejemennya yang amburadul, atau dengan alasan tertentu si mitra tidak mau membranding merk waralaba anda, pinginnya memiliki merk sendiri dengan menu yang sama. lihat saja, gerai gerai Mc. Donald yang tahun kemarin di gegerkan dengan waralaba Tony Jack. dan sekarang bagaimana kondisi Tony Jack.. Cari sendiri beritanya.

Point ke enam, banyak cara untuk mempromosikan produk usaha waralaba, seperti contoh membangun blog, membangun jaringan melalui facebook maupun twiter, kemudian bisa ikut juga di pameran pameran franchise atau media media majalah franchise.

Demikian sekelumit cara membuat franchise atau waralaba


Source: http://www.centerwaralaba.com/2013/02/16/cara-membuat-franchise/

Mengenal Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Kekayaan Intelektual adalah Hasil dari Kegiatan Intelektual/Hasil olah fikir manusia dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, simbol, temuan teknologi dan informasi. Kekayaan Intelektual bersifat komunal dan personal. Bersifat komunal (pemiliknya entitas dalam wilayah Negara/Negara pemegang hak), meliputi : foklore/ekspresi budaya tradisional, pengetahuan tradisional, indikasi geografis, dan keanekaragaman hayati. Sedangkan yang bersifat personal (pemilik dan pemegang hak ekslusifnya orang/badan hukum),  meliputi : Hak Cipta dan Hak Milik Industri.
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berasal dari kata  Intellectual Property Rights” . HKI adalah hak hukum yang diberikan pada suatu hasil kreatif intelektual manusia. HKI bukan hak hukum untuk melindungi ide atau gagasan, tetapi berupa perwujudan dari hasil kegiatan intelektual atau hasil olah fikir manusia dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, simbol, temuan teknologi dan informasi.

Kekayaan Intelektual yang dapat menjadi HKI meliputi : invensi dibidang teknologi (alat, metode), karya seni, sastra dan ilmu pengetahuan, produk barang khas berdasarkan letak/wilayah geografis, rancangan produk yang punya nilai estetika, tanda dagang/jasa, informasi bisnis/teknologi bersifat rahasia, paten atau paten sederhana, hak cipta dan hak terkait, indikasi geografis, hak atas desain industri, hak atas merek, serta hak atas rahasia dagang.
HKI terbagi atas :
1. HAK CIPTA :
a. Seni
b. Sastra
c. Ilmu Pengetahuan
d. Hak-hak Terkait (Pelaku, Rekaman, dsb)

2. HAK MILIK INDUSTRI
a. Paten (Penemuan Teknologi)
b. Merek (Simbol/Nama Dagang Barang/Jasa)
c. Desain Industri (Penampilan Produk : Bentuk, Konfigurasi & Komposisi)
d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Rancangan Peletakan Rangkaian Elemen-elemen Elektronik)
e. Rahasia Dagang (Informasi Rahasia yang memiliki nilai ekonomi)
f. Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) (dikelola Dep. Pertanian)

Tujuan dari HKI adalah untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, yaitu mengakui dan menghargai inovasi dan pengembangan, menguntungkan dalam konteks perdagangan internasional, dapat melakukan transfer teknologi dan investasi ke luar negeri. Selain itu HKI juga bertujuan untuk menyesuaikan dengan standar internasional dan mengakui hak inventor dan kreator.

Source: http://actionindonesia.com/?p=328

5 Kebiasaan Buruk Para Pengusaha Baru

Terdapat beberapa kebiasaan buruk para pengusaha yang baru memulai bisnis:
1. Mengambil proyek terlalu banyak
Semangat yang sangat berlebihan bisa menjadi kelemahan bagi para pembisnis baru, tapi disisi lain juga kekuatan. Pada saat seorang pembisnis tidak bisa fokus pada satu tugas dalam waktu 5 menit, maka pekerjaan yang dihasilkan akan menjadi tidak maksimal. Untuk mengatasinya adalah dengan menentukan prioritas dari pekerjaan yang menumpuk.

2. Tidak menghiraukan keseimbangan antara kerja dan pekerjaan
Pengusaha yang sudah berpengalaman pasti menyadari pentingnya keseimbangan hidup. Karena bekerja terlalu berlebihan akan menyebabkan stress. Pengusaha baru yang bekerja dirumah mungkin pada saat awal bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan rumah, tapi seiring dengan berkembangnya bisnis, kehidupan rumah bisa tercampur aduk dengan urusan bisnis, hal ini sangat berbahaya. Untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan waktu sebaik mungkin.

3. Tidak mempunyai strategi
Permasalahan kadang muncul karena pengusaha mengambil terlalu banyak pekerjaan, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas kerja. Dibandingkan dengan mengambil strategi, pembisnis baru terkadang bekerja seperti “pemadam kebakaran” atau dengan kata lain menghadapi masalah yang muncul dengan reaksi yang berlebih, dibandingkan menyelesaikan masalah dengan strategi yang matang. Untuk mengatasi masalah ini cobalah untuk duduk sejenak untuk memikirkan strategi-strategi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang timbul.

4. Bergantung pada kebiasaan
Memang sangat terasa nyaman untuk bergantung kepada orang-orang yang biasa menjadi penolong kita. Tapi jika pengusaha terlalu bergantung pada zona nyaman mereka, maka kreatifitas pun jadi terhambat. Anda jadi cenderung malas untuk menemukan inovasi-inovasi baru yang mungkin akan lebih berdampak hebat pada bisnis anda.

5. Tidak bisa menerima saran
Secara natural apabila kita sudah berhasil terhadap bisnis adalah rentan terhadap saran. Padahal tidak ada kesuksesan yang sempurna, pasti terdapat celah-celah kesalahan yang bisa menjadi kunci keretakan bisnis anda. Jika saran yang diberikan terhadap masalah bisnis anda tidak di perhatikan maka akan menumpuk dan sedikit demi sedikit akan menggerogoti bisnis anda.

Faktor Lokasi Dalam Keberhasilan Usaha Waralaba

Mungkin Anda pernah melihat sebuah usaha waralaba yang cukup terkenal di sebuah lokasi sepi dikunjungi pembeli. Padahal di beberapa tempat dengan merek serupa, usaha tersebut dihiasi lalu lalang pembeli. Yang terpikir kemudian tentunya, di mana letak kekurangannya? Bisa jadi hal tersebut disebabkan karena lokasi usaha yang tidak sesuai.

Meski berencana membeli ijin sebuah usaha waralaba telah terkenal, jangan lupa bahwa Anda tetap harus memikirkan lokasi usaha yang akan diambil. Jangan dianggap sepele, kesalahan dalam memilih lokasi usaha akan bisa berakibat fatal pada usaha Anda nantinya.

Ada beberapa cara yang dijalani oleh calon franchisee dalam menentukan lokasi usaha. Biasanya calon franchisee akan diberikan kesempatan menentukan pilihan lokasi yang akan dipilih. Selanjutnya, franchisor yang mengirimkan stafnya sebagai utusan untuk melakukan survei kelayakan lokasi.

Namun dalam beberapa kasus memang terdapat franchisor yang melepas tangan dalam penentuan lokasi usaha. Justru mungkin Anda harus lebih berhati-hati untuk ini. Yang pasti Anda sebaiknya jeli memilih lokasi yang tentunya disesuaikan dengan target pasar. Pasar dalam hal ini adalah siapa calon pembeli yang akan ditawarkan produk atau jasa.  Untuk itu  konsep jelas tentang siapa pasar terlebih dulu telah harus clear.

Sebagai contoh, jika ingin menjual makanan untuk anak-anak sekolah, maka sebaiknya pilihlah tempat menjual makanan di dekat sekolah. Begitu pula jika Anda ingin berjualan makanan untuk karyawan kantor, maka sebaiknya ambil saja tempat di perkantoran. Begitu seterusnya. Pemilihan lokasi yang tidak disesuaikan dengan target pasar biasanya akan membuat usaha makanan tersebut menjadi lebih cepat untuk tutup.

Khusus untuk waralaba ritel misalnya, lokasi usaha yang baik adalah yang memberikan akses pada sejumlah besar kelompok target pasar. Fasilitas yang baik, lalu lintas customer yang cukup, demografi populasi yang padat perlu dikaji.