7 Strategi Bisnis Yang Wajib Dimiliki Entrepreneur

Menjamurnya berbagai peluang usaha baru di Indonesia, ternyata tidak hanya menuntut kreativitas dari para pengusaha untuk terus bisa berkarya, namun juga mengharuskan sebagian besar dari mereka untuk mulai menyusun beberapa strategi bisnis yang jitu guna memenangkan persaingan yang ada. Ketatnya persaingan pasar, dan munculnya para pemain baru di berbagai penjuru negeri, membuat sebagian besar pelaku usaha di Indonesia harus siap bersaing dengan pelaku usaha lainnya guna mempertahankan eskistensi kerajaan bisnisnya.Karenanya, untuk membantu para pemula maupun para pelaku usaha dalam mempertahankan eksistensi bisnisnya, berikut ini kami informasikan 7 strategi bisnis yang wajib dimiliki entrepreneur sebelum akhirnya mereka terjun di tengah ketatnya persaingan pasar.



1. Berani berpikir kreatif dan segera mulai melangkah.

Modal utama yang perlu dimiliki seorang entrepreneur sukses adalah berani berpikir kreatif dan mewujudkan ide-ide gila yang telah mereka ciptakan. Modal kreatif saja ternyata tidaklah cukup. Sebagai seorang pengusaha, tentunya Anda dituntut untuk segera mulai melangkah dan menemukan cara paling efektif untuk segera mewujudkan mimpi-mimpi besar yang telah dicita-citakannya.



2. Mulailah dari lingkungan Anda

Tak jarang para pemula bersikap terlalu berlebihan dalam mencari sebuah ide bisnis. Mereka sering menginginkan bisnis yang bonefit, menghasilkan banyak keuntungan, namun tidak membutuhkan modal besar. Padahal, untuk menciptakan peluang bisnis yang potensial Anda bisa memulainya dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita. Contohnya saja seperti ide sang pengusaha sukses dari Grobogan yakni Rustono, yang sekarang ini berhasil menjadi juragan tempe di negara maju seperti Jepang.



3. Tetapkan biaya produksi yang proposional

Sebagai seorang pelaku usaha, tentunya Anda harus lebih jeli dalam menganggarkan biaya pengeluaran dan menyiapkan strategi pemasaran jitu untuk bisa mendatangkan penghasilan yang maksimal. Sebisa mungkin tekan biaya produksi agar harga jual yang Anda tawarkan kepada konsumen bisa terjangkau, dan keuntungan yang didapatkan semakin hari kian berlipat-lipat. Strategi inilah yang berhasil mengantarkan kesuksesan Waroeng Steak and Shake, karena dengan tagline “Bukan Steak Biasa”, sang pengusaha berusaha menawarkan menu kuliner serba steak dengan harga jual yang bersahabat dengan kantong konsumen yang rata-rata adalah para mahasiswa, pelajar, dan masyarakat menengah ke bawah.



4. Manfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar yang lebih luas

Perkembangan teknologi dan informasi di era serba digital seperti sekarang ini, tentunya bisa Anda manfaatkan dengan baik untuk menjangkan peluang pasar yang lebih luas. Bila sebelumnya Anda belum menjamah pasar online untuk memasarkan produk Anda, maka tidak ada salahnya bila mulai sekarang Anda mengoptimalkan penggunaan situs jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, website, dan lain sebagainya untuk mengurangi besarnya biaya iklan offline yang semakin tinggi serta menjangkau calon konsumen di berbagai belahan dunia.



5. Terus kembangkan brand Anda

Tak bisa kita pungkiri bila kekuatan sebuah brand masih sangat penting dalam mengembangkan sebuah usaha. Oleh karena itu, terus hidupkan brand bisnis Anda dan jagalah reputasinya agar semakin dikenal banyak orang dan disukai para pelanggan. Untuk menjalankan strategi tersebut, Anda bisa melengkapi profil perusahaan Anda dengan sejarah singkat mengenai pendirian usaha maupun kisah dibalik pembuatan produk unggulan yang menjadi brand utama bisnis Anda.



6. Tumbuhkan bakat berwirausaha

Setiap orang bisa menjadi pengusaha sukses apabila mereka mau dan mampu menumbuhkan bakat wirausaha yang ada dalam diri mereka. Berbekal niat, semangat, dan tekad yang cukup kuat, setiap orang bisa mendapatkan ilmu dan ketrampilan khusus tentang wirausaha melalui buku-buku atau majalah bisnis yang beredar di pasaran, mengakses informasi dari media internet, maupun bergaul dengan para pengusaha sukses yang bisa memotivasi diri Anda untuk terus maju dan merintis sebuah usaha.



7. Siap menghadapi berbagai resiko

Ketika menjalankan sebuah usaha, hadirnya sebuah hambatan, tantangan, maupun berbagai kendala yang muncul di tengah perjalanan usaha, menjadi salah satu resiko yang harus dihadapi para pelakunya. Karenanya, untuk menghadapi resiko tersebut, pastikan bahwa semua perencanaan bisnis Anda sudah dipersiapkan dengan matang agar munculnya sebuah resiko bisa diminimalisir sekecil mungkin.

Nah, ini dulu sedikit informasi tips bisnis yang bisa kami sampaikan kepada para pembaca. Semoga informasi ini bisa memberikan manfaat bagi semua lapisan masyarakat dan membantu para pemula yang tertarik menekuni dunia usaha. Maju terus UKM Indonesia dan salam sukses.

Jurus Jitu Menjalankan Bisnis Franchise Hingga Sukses

Siapa yang tidak ingin bisnis yang dijalankan menuai kesuksesan? Setiap pengusaha pasti menginginkan hal seperti itu. Tapi bagaimana caranya dan apa jurusnya agar menjalankan bisnis seperti bisnis franchise (waralaba) ini bisa sukses.
Starbuck merupakan salah satu kisah sukses waralaba yang terkenal  di dunia. Waralaba ini didirikan pada tahun 1971 dan hanya memiliki satu toko di Pike Place Market Seatle. Setelah menerapkan sistem waralaba, pada tahun 2006 Starbuck telah memiliki 8.000 gerai yang berlokasi di lebih dari 37 negara serta memiliki keuntungan hampir $3 miliar dollar AS.
Kita bisa melihat hebatnya menjalankan bisnis waralaba ini. Dengan menjual sebuah merek, rencana bisnis, dan keahlian pada pemilik bisnis regional. Maka menjalankan bisnis ini dapat meningkatkan keuntungan serta menjangkau pasar global tanpa mengalami peningkatan resiko secara signifikan.
Jumlah dan jenis waralaba (Franchisee) sangat beragam. Waralaba merupakan sebuah teknik yang digunakan oleh berbagai perusahaan mulai dari gerai makanan cepat saji seperti McDonald hingga jaringan hotel mewah seperti Hyatt.
Ada dua elemen kunci setiap waralaba yakni pemberi waralaba (franchiser) dan penerima waralaba (franchisee). Pemberi waralaba menjual merek terkemuka serta keahliannya kepada penerima waralaba yang kemudian mendirikan dan mengelola bisnis tersebut.
Untuk pemberi waralaba mendapatkan manfaat berupa kemampuan untuk meningkatkan keuntungan serta menjadi merek yang terkenal dan dipercaya di tingkat nasional atau global.
Sedangkan keuntungan yang didapatkan penerima waralaba adalah bahwa teknik ini dipercaya dapat mengurangi tingkat resiko. Waralaba juga lebih mempermudah bisnis karena tidak harus menciptakan rencana bisnis baru atau mengembangkan merek yang belum terkenal.
Walaupun sudah terbilang kuno, ide waralaba ini dihidupkan kembali di akhir abad ke-20, karena adanya keinginan yang kuat untuk menciptakan struktur bisnis yang terdesentralisasi. Pada tahun 1999, statistik menunjukan bahwa terdapat 540.000 waralaba di Amerika, di mana waralaba baru bermunculan setiap 6,5 menit pada setiap hari kerja.
Untuk di Indonesia sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yakni dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Lalu perkembangan selanjutnya pada tahun 1970-an, yakni dengan dimulakan sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memilki hak untuk memproduksi produknya.
Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat bagi para franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memilki kepastian hukum yang jelas, sehingga waralaba  berkembang pesat seperti di negara di AS dan Jepang.
Berikut penerapan untuk menjalan bisnis waralaba sehingga menjadi sukses yang di kutip dari buku 100 Ide Bisnis Terhebat.
  1. Pastikan untuk menyediakan layanan dan produk yang berkualitas secara konsisten di seluruh waralaba untuk memperoleh reputasi positif, stabil, terpercaya dari pelanggan.
  2. Mendirikan waralaba baru yang jaraknya terlalu dekat dengan waralaba sejenis yang sudah berdiri terlebih dahulu dapat beresiko terjadinya kanibalisasi terhadap salah satu waralaba dan mengakibatkan kehilangan pembeli. Walaupun hal ini dapat menjadi praktik bisnis positif, penting juga untuk mempertibibangkan akibatnya.
  3. Berikan kesempatan kepada penerima waralaba untuk mencapai tingkat indenpendensi yang lebih tinggi, yang membedakan mereka dari investor atau konglomerat pasif.
  4. Mintalah bantuan pengacara atau penasihat yang mumpuni dan berpengalaman jika kamu ingin menjual atau membeli sebuah waralaba. Kunci keberhasilannya adalah dengan memiliki produk atau layanan bisnis yang tepat, memahami rincian dengan baik, serta menyetujuinya dan bekerja sama.
Semoga kiat-kiat Bisnis Franchise ini, menjadi penyemangat bagi Anda untuk lebih berkembang lagi dalam menjalankan bisnis franchise.

Apakah Karyawan Bergaji Layak, Bagus Untuk Bisnis?

Apakah Karyawan Bergaji Layak, Bagus Untuk Bisnis?

Tanpa elemen karyawan, roda bisnis sebuah perusahaan tidak akan berputar. Layaknya aset, karyawan sepatutnya mendapatkan penghargaan yang layak dan ‘dilindungi’ dengan baik. Walaupun penghargaan tidak selalu berupa angka gaji, namun tak dapat dipungkiri angka menjadi salah satu faktor yang umumnya mendorong karyawan untuk bekerja lebih baik.
Dari sudut pandang perusahaan, gaji karyawan merupakan sebuah titik pertimbangan ‘apakah dengan gaji sekian besar si karyawan dapat memberikan pemasukkan lebih untuk perusahaan, bagaimana kalau tidak’. Jadi, apakah karyawan yang digaji dengan layak, bagus untuk bisnis?
Sudah bukan rahasia lagi bahwa di Amerika para pekerja ritel digaji kecil dengan pendapatan per tahunnya hanya 25.310 dolar AS berdasarkan Bureu of Labor Statistics. Hal tersebut pastinya dilakukan untuk meningkatkan marjin keuntungan.
Namun, Zeynep Ton, profesor dari MIT Sloan School of Management berargumen melalui artikel di Harvard Business Review bahwa dengan taktik yang seperti itu, biasanya hanya menjadi serangan balik untuk perusahaan.
Dengan memotong kekuatan sumber daya manusia – menggaji kecil – perusahaan mengalami penurunan performa yang akan mempengaruhi kepuasan konsumen dan menjadikannya masalah paling utama bagi perusahaan: penurunan penjualan.
Ton memaparkan contoh kasus Home Depot yang memotong jumlah karyawannya dan menggaji pekerja paruh waktu untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan. Dalam jangka waktu pendek, Home Depot berhasil meningkatkan keuntungan. Namun, lama kelamaan kepuasan konsumen menurun yang kemudian menurunkan angka penjualan bahkan menjadi negatif dalam beberapa tahun.
Ton berargumen bahwa dengan memberikan karyawan gaji yang baik, perusahaan akan menikmati hasilnya dalam jangka panjang.
Costco, salah satu ritel yang menggaji karyawannya dengan baik. CEO Costco, Craig Jelinek menyatakan bahwa perusahaannya  menghindari strategi memberikan gaji kecil pada karyawan. “Kami mengetahui bahwa meminimalkan perputaran karyawan dan memaksimalkan produktivitas, loyalitas, dan komitmen karyawan lebih menguntungkan dalam jangka panjang,”ujarnya
Pertanyaannya: Apa dasar petimbangan gaji yang baik? Tingkat pendidikan, standar hidup di suatu wilayah, pengalaman dan lamanya seorang karyawan bekerja di suatu perusahaan. Tentu gaji seorang kuli bangunan berbeda dengan gaji seorang pemasar lulusan sarjana. Gaji karyawan yang sudah bekerja selama 4 tahun tentu berbeda dengan gaji karyawan yang baru bekerja 2 tahun.
Mungkin untuk perusahaan yang baru berdiri akan sulit memberikan angka gaji yang mewakili kata ‘baik’ berdasarkan pertimbangan tersebut. Alternatifnya, upah minimal regional bisa menjadi patokan.
Apabila perusahaan memperlakukan karyawannya dengan baik layaknya sebuah aset, bukan hal yang tidak mungkin perusahaan akan semakin maju. Apabila karyawan sudah merasa bahwa perusahaan tersebut layaknya rumah yang memberikan perlindungan, karyawan akan betah dan bekerja lebih giat dan bukan tidak mungkin bersedia menjadi tameng apabila sewaktu-waktu perusahaan diterpa krisis.

Cara Membuat Franchise (Waralaba)

Ada beberapa pertanyaan dibawah ini yang biasa kita pikirkan pada saat berpikir cara membuat franchise. Kemudian akan kita jawab sesuai dengan pengamatan yang saya lakukan
  1. Setelah beberapa franchisor di Indonesia mempunyai “TRUST” di kalanganya, dengan mudah mereka membangun lebih dari 1 produk usaha franchise.
  2. Banyak di antara pengusaha pengusaha yang telah sukses dalam arti omzet penjualan produknya cukup histeria alis omzet melimpah, kemudian tidak membuka cabang atau pun mitra kerjasamnya.
  3. Alasan pingin banget mempunyai produk waralaba, tetapi tidak mempunyai produk waralaba sama sekali
  4. Mereka yang sudah memiliki produk unggulan bisa berpotensi di waralabakan, merasa takut tidak bisa membangun sistem, apalagi merasa gak bisa bikin SOP dan Manajemen Standart yang akan di tawarkan
  5. Ada rasa kekwatiran pada saat menawarkan potensi usaha waralaba, pihak mitranya tidak untung alias merugi
  6. Bahkan ada juga yang sudah memiliki beberapa cabang usahanya, ternyata gak bisa mempromosikan ke khalayak ramai

Mari kita jawab beberapa point diatas
Point pertama, kita lihat contoh franchisor sukses, kita ambil saja, Hendy si pemilik kebab turki baba rafi, saat ini sudah ada 3 produk yang di kembangkan oleh franchisor tersebut, ada piramizza, ayam bakar mas mono, dan produk kreasinya sendiri yaitu kebab turki (ini sepengetahuan saya, silahkan cek sendiri kebenaranya). Sebuah trust atau indonesia sebuah kepercayaan, ternyata memberikan sebuah peluang peluang usaha baru bagi Hendy. dan tentunya sekaligus termasuk salah satu yang ikut mengambil kebijakan kebijakan dalam manajemen produk waralaba orang lain tersebut. Dengan membangun trust, bisa di simpulkan akan banyak di lamar oleh pemilik pemilik produk, dimana produk orang lain tersebut sebenarnya sudah mentereng brandingnya. Cukup fantastis kan? hanya dengan trust membuat franchise yang ke dua, ketiga, keempat dan seterusnya tinggal posting manajemen.

Point Kedua, adalah ketakutan tidak mampu berpikir untuk manajemen, atau bisa jadi si pemilik usaha tersebut dalam menangani beberapa outletnya sudah cukup kalang kabut, bukankan seorang pengusaha itu harus fredom, tanpa harus kalang kabut memenejemen usahanya. Jika di tanya, apakah usaha bapak di waralabakan?, oh gak pak, saya aja dengan usaha saya sudah cukup perpenghasilan dan tentunya saya akan capek lagi jika membangun usaha untuk di waralabakan. Kalau sudah begini, biasanya ada franchisor atau tangan tangan baru mencoba untuk membangun usaha waralaba produk pengusaha tersebut. Bayangin, usahanya sudah jelas ada, omzetnya cukup menarik, tinggal sedikit perjuangannya untuk di jadikan produk waralaba. lihat point 3 di bawah ini ya…

Point ketiga, bagi anda yang saat ini sangat antusias dan sudah memiliki paradigma bagaiaman enaknya dan mudahnya cara membuat franchise, maka yang seperti point 2 di atas adalah potensi anda. Hanya dengan pembagian atau sharing profit hasil usaha yang di waralabakan, bisa jadi anda sudah langsung memiliki produk usaha waralaba. Setiap daerah, sudah bisa dipastikan memiliki produk unggulan baik berbentuk makanan, minuman ataupun jasa. Jika produk unggulan tersebut tidak sama sekali di waralabakan, ambil potensi ini untuk segera di bangun franchise. Jadi cukup itu saja, tinggal anda membuat standart manajemen, standart beberapa SOP termasuk SOP produksi, SOP pelayanan, SOP manajemen dan lain lain yang diperlukan. Jika produk tersebut belum mempunyai branding, segera buatkan LOGO termasuk tag ataupun labelnya, yang sebelumnya hanya memakai gerobak apa adanya, nah coba bangun display outlet semenarik. Banyak saat ini pembuat gerobak waralaba yang cantik dan imut imut.

Point ke empat, nah ini yang ini kebanyakan yang dipikir mereka, bukankan saat mereka mengelola usaha sudah ada cara cara memenajemennya. Cuman, biasanya manajemen yang diterapkan hanya berdasarkan kebiasaan tradisional atau cukup di masukkan di pikiran. Sebagai contoh, jika membuat atau mengolah produk A, mereka biasanya disimpan di otak saja. Atau bagaimana mereka melayani pelanggan pelanggannya agar tertarik untuk membeli terus, ini pun kadang juga gak tertulis, cuman di angan angan saja. Padahal membangun sistem manajemen dan SOP yang kemudian menjadi sebuah manual book atau standart yang tertulis. Itu cukup menuliskan apa apa yang di kerjakan dari proses A sampai proses Z. Nah, karena biasanya pengusaha itu pemalas ( he he he), menulis adalah sesuatu yang butuh perjuangan mati matian. Padahal dengan sedikit mengeluarkan energi untuk itu, maka potensi penghasilan mereka akan cepat melejit bagai petir membahana. Termasuk bagaiaman mengelola perencanaan keungan usaha anda, banyak pihak pihak yang saat ini melayani jasa konsultan perencanaan keuangan, seperti

Point ke lima, perlu di ingat, semua bisnis itu beresiko. Kadang anda rugi kadang anda gagal. Dan hal ini sudah di pahami dengan jelas las.. oleh setiap insan pengusaha. Dengan produk yang sama, di tempat satunya sukses, bisa jadi di tempat lain nggak sukses. Tetapi sebagai seorang yang kemudian jadi franchisor, Jangan di kwatirkan dengan hal ini. Tetapi terus beri supprot bagi mitra mitra anda yang kebetulan tidak memberikan omzet yang seperti anda harapkan. Anda perlu melakukan evaluasi pada manajemen dan pemasaran mitra lokal anda yang ujung ujungnya menjadi sebuah harapan baru bagi mitra anda. Lakukan motivasi kepada mitra anda. Waralaba asing di indonesia ini juga banyak yang gulung tikar kawan……Waralaba waralaba lokal dengan branding yang besar juga banyak mitranya yang berguguran. Kenapa bisa seperti ini, banyak faktor seperti mitra tersebut tidak mematuhi peraturan peraturan ataupun SOP yang di berikan, Bisa jadi mitra anda curang, sebagai contoh yang seharusnya memakai produk standart dari pusat, kemudian membuat produk bahan sendiri, dengan harapan mitra tersebut lebih untung jika tidak order bahan standart dari pusat, cara memanejemen karyawannya yang tidak serius, cara memanejemennya yang amburadul, atau dengan alasan tertentu si mitra tidak mau membranding merk waralaba anda, pinginnya memiliki merk sendiri dengan menu yang sama. lihat saja, gerai gerai Mc. Donald yang tahun kemarin di gegerkan dengan waralaba Tony Jack. dan sekarang bagaimana kondisi Tony Jack.. Cari sendiri beritanya.

Point ke enam, banyak cara untuk mempromosikan produk usaha waralaba, seperti contoh membangun blog, membangun jaringan melalui facebook maupun twiter, kemudian bisa ikut juga di pameran pameran franchise atau media media majalah franchise.

Demikian sekelumit cara membuat franchise atau waralaba


Source: http://www.centerwaralaba.com/2013/02/16/cara-membuat-franchise/

Mengenal Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Kekayaan Intelektual adalah Hasil dari Kegiatan Intelektual/Hasil olah fikir manusia dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, simbol, temuan teknologi dan informasi. Kekayaan Intelektual bersifat komunal dan personal. Bersifat komunal (pemiliknya entitas dalam wilayah Negara/Negara pemegang hak), meliputi : foklore/ekspresi budaya tradisional, pengetahuan tradisional, indikasi geografis, dan keanekaragaman hayati. Sedangkan yang bersifat personal (pemilik dan pemegang hak ekslusifnya orang/badan hukum),  meliputi : Hak Cipta dan Hak Milik Industri.
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berasal dari kata  Intellectual Property Rights” . HKI adalah hak hukum yang diberikan pada suatu hasil kreatif intelektual manusia. HKI bukan hak hukum untuk melindungi ide atau gagasan, tetapi berupa perwujudan dari hasil kegiatan intelektual atau hasil olah fikir manusia dalam bidang seni, sastra, ilmu pengetahuan, simbol, temuan teknologi dan informasi.

Kekayaan Intelektual yang dapat menjadi HKI meliputi : invensi dibidang teknologi (alat, metode), karya seni, sastra dan ilmu pengetahuan, produk barang khas berdasarkan letak/wilayah geografis, rancangan produk yang punya nilai estetika, tanda dagang/jasa, informasi bisnis/teknologi bersifat rahasia, paten atau paten sederhana, hak cipta dan hak terkait, indikasi geografis, hak atas desain industri, hak atas merek, serta hak atas rahasia dagang.
HKI terbagi atas :
1. HAK CIPTA :
a. Seni
b. Sastra
c. Ilmu Pengetahuan
d. Hak-hak Terkait (Pelaku, Rekaman, dsb)

2. HAK MILIK INDUSTRI
a. Paten (Penemuan Teknologi)
b. Merek (Simbol/Nama Dagang Barang/Jasa)
c. Desain Industri (Penampilan Produk : Bentuk, Konfigurasi & Komposisi)
d. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Rancangan Peletakan Rangkaian Elemen-elemen Elektronik)
e. Rahasia Dagang (Informasi Rahasia yang memiliki nilai ekonomi)
f. Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) (dikelola Dep. Pertanian)

Tujuan dari HKI adalah untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi, yaitu mengakui dan menghargai inovasi dan pengembangan, menguntungkan dalam konteks perdagangan internasional, dapat melakukan transfer teknologi dan investasi ke luar negeri. Selain itu HKI juga bertujuan untuk menyesuaikan dengan standar internasional dan mengakui hak inventor dan kreator.

Source: http://actionindonesia.com/?p=328

5 Kebiasaan Buruk Para Pengusaha Baru

Terdapat beberapa kebiasaan buruk para pengusaha yang baru memulai bisnis:
1. Mengambil proyek terlalu banyak
Semangat yang sangat berlebihan bisa menjadi kelemahan bagi para pembisnis baru, tapi disisi lain juga kekuatan. Pada saat seorang pembisnis tidak bisa fokus pada satu tugas dalam waktu 5 menit, maka pekerjaan yang dihasilkan akan menjadi tidak maksimal. Untuk mengatasinya adalah dengan menentukan prioritas dari pekerjaan yang menumpuk.

2. Tidak menghiraukan keseimbangan antara kerja dan pekerjaan
Pengusaha yang sudah berpengalaman pasti menyadari pentingnya keseimbangan hidup. Karena bekerja terlalu berlebihan akan menyebabkan stress. Pengusaha baru yang bekerja dirumah mungkin pada saat awal bisa menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan rumah, tapi seiring dengan berkembangnya bisnis, kehidupan rumah bisa tercampur aduk dengan urusan bisnis, hal ini sangat berbahaya. Untuk mengatasinya adalah dengan pengaturan waktu sebaik mungkin.

3. Tidak mempunyai strategi
Permasalahan kadang muncul karena pengusaha mengambil terlalu banyak pekerjaan, yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas kerja. Dibandingkan dengan mengambil strategi, pembisnis baru terkadang bekerja seperti “pemadam kebakaran” atau dengan kata lain menghadapi masalah yang muncul dengan reaksi yang berlebih, dibandingkan menyelesaikan masalah dengan strategi yang matang. Untuk mengatasi masalah ini cobalah untuk duduk sejenak untuk memikirkan strategi-strategi terbaik dalam menyelesaikan masalah yang timbul.

4. Bergantung pada kebiasaan
Memang sangat terasa nyaman untuk bergantung kepada orang-orang yang biasa menjadi penolong kita. Tapi jika pengusaha terlalu bergantung pada zona nyaman mereka, maka kreatifitas pun jadi terhambat. Anda jadi cenderung malas untuk menemukan inovasi-inovasi baru yang mungkin akan lebih berdampak hebat pada bisnis anda.

5. Tidak bisa menerima saran
Secara natural apabila kita sudah berhasil terhadap bisnis adalah rentan terhadap saran. Padahal tidak ada kesuksesan yang sempurna, pasti terdapat celah-celah kesalahan yang bisa menjadi kunci keretakan bisnis anda. Jika saran yang diberikan terhadap masalah bisnis anda tidak di perhatikan maka akan menumpuk dan sedikit demi sedikit akan menggerogoti bisnis anda.

Faktor Lokasi Dalam Keberhasilan Usaha Waralaba

Mungkin Anda pernah melihat sebuah usaha waralaba yang cukup terkenal di sebuah lokasi sepi dikunjungi pembeli. Padahal di beberapa tempat dengan merek serupa, usaha tersebut dihiasi lalu lalang pembeli. Yang terpikir kemudian tentunya, di mana letak kekurangannya? Bisa jadi hal tersebut disebabkan karena lokasi usaha yang tidak sesuai.

Meski berencana membeli ijin sebuah usaha waralaba telah terkenal, jangan lupa bahwa Anda tetap harus memikirkan lokasi usaha yang akan diambil. Jangan dianggap sepele, kesalahan dalam memilih lokasi usaha akan bisa berakibat fatal pada usaha Anda nantinya.

Ada beberapa cara yang dijalani oleh calon franchisee dalam menentukan lokasi usaha. Biasanya calon franchisee akan diberikan kesempatan menentukan pilihan lokasi yang akan dipilih. Selanjutnya, franchisor yang mengirimkan stafnya sebagai utusan untuk melakukan survei kelayakan lokasi.

Namun dalam beberapa kasus memang terdapat franchisor yang melepas tangan dalam penentuan lokasi usaha. Justru mungkin Anda harus lebih berhati-hati untuk ini. Yang pasti Anda sebaiknya jeli memilih lokasi yang tentunya disesuaikan dengan target pasar. Pasar dalam hal ini adalah siapa calon pembeli yang akan ditawarkan produk atau jasa.  Untuk itu  konsep jelas tentang siapa pasar terlebih dulu telah harus clear.

Sebagai contoh, jika ingin menjual makanan untuk anak-anak sekolah, maka sebaiknya pilihlah tempat menjual makanan di dekat sekolah. Begitu pula jika Anda ingin berjualan makanan untuk karyawan kantor, maka sebaiknya ambil saja tempat di perkantoran. Begitu seterusnya. Pemilihan lokasi yang tidak disesuaikan dengan target pasar biasanya akan membuat usaha makanan tersebut menjadi lebih cepat untuk tutup.

Khusus untuk waralaba ritel misalnya, lokasi usaha yang baik adalah yang memberikan akses pada sejumlah besar kelompok target pasar. Fasilitas yang baik, lalu lintas customer yang cukup, demografi populasi yang padat perlu dikaji.

10 Hal Yang Bisa Menentukan Masa Depan Bisnis Retail

Siap atau tidak, retail di Indonesia bakal menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya retail-retail asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan fulus yang “tak terbatas”. Oleh karenanya retail di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia retail di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan bisnis retaill.
  1. Promosi harga sudah seharusnya
    Setiap retail, baik retail kecil maupun besar ataupun retail untuk segmen bawah atau premium. Semuanya tak akan lepas dari promosi harga. Strategi ini seolah sudah menjadi strategi generik. Sama halnya dengan obat yang menawarkan kemanjuran strategi ini tidak bisa dijadikan strategi yang unik. Namun demikian strategi ini juga tidak bisa ditinggalkan. Kini pilihannya adalah kapan program promosi harga ini dilakukan dan kreativitas apa yang bisa dikembangkan. Beberapa peretail merek premium berkreasi dengan menawarkan program diskon besar-besaran pada malam hari. Program midnight sale ini ternyata disambut antusias dan seolah mulai menjadi wabah di ibu kota.
    Kreativitas dalam promosi harga juga tidak selalu dalam bentuk diskon. Promosi harga bisa juga dilakukan dalam bentuk cash back atau buy one get two. Namun apapun kreativitas yang dilakukan, peretail di masa depan tak akan bisa meninggalkan program promosi harga begitu saja.
  2. Menjual experience lebih penting
    Produk yang dijual memang menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke retail. Namun demikian, jangan terpaku pada produk tanpa menghadirkan pengalaman yang unik bagi konsumen. Yang lebih menjadi daya tarik bagi konsumen untuk datang ke Bread Talk atau Jco bukanlah roti abon atau donat rasa almond, tetapi pengalaman terhadap merek itu sendiri. Berdasarkan riset dari Nielsen, 93 persen dari konsumen Indonesia menjadikan retail sebagai tempat rekreasi. Mereka akan semakin banyak berbelanja jika terpuaskan oleh pengalaman yang diciptakan oleh peretail. Experience ini bisa dikembangkan melalui banyak dimensi seperti permainan dengan panca indera (tampilan, bunyi, bau, dll), maupun melalui interaksi dengan konsumen. Itulah sebabnya, menjual pengalaman akan menjadi hal yang lebih dicari oleh konsumen ketimbang produk yang dijual.
  3. Berlarilah dengan teknologi
    Teknologi akan berperan besar bagi retail di masa depan. Sekalipun konsumen menganggap pergi ke retail sebagai rekreasi, mereka tetap saja merupakan konsumen yang tidak sabaran. Di zaman serba cepat ini, mereka membutuhkan pelayanan yang cepat dari sebuah retail. Ada tiga macam teknologi yang akan mempengaruhi kekuatan retail masa depan. Pertama adalah teknologi di bidang inventori, dimana peretail membutuhkan teknologi yang bisa dengan cepat mengidentifikasikan inventori dan memberi sinyal dengan cepat jika terjadi kekosongan barang. Kedua adalah teknologi di bidang transaksi. retail masa depan membutuhkan teknologi yang bisa membuat transaksi selesai dalam waktu lebih cepat serta tidak menciptakan antrian yang panjang. Ketiga adalah teknologi yang bisa membantu menciptakan retensi dan hubungan dengan pelanggan. Misalnya untuk menginformasikan point reward atau produk-produk baru melalui ponsel.
    Teknologi seperti RFID (Radio Frequency Identification) atau LBS (Location Based Service) tampaknya akan bermunculan di masa mendatang karena teknologi semacam inilah yang bisa membantu peretail memberi pelayanan yang cepat dan tepat.
  4. Mengikat konsumen dengan program loyalty
    Di masa depan peretail harus punya program loyalty yang unik dan experiential bagi konsumen. Semakin banyaknya pilihan retail membuat konsumen tidak bisa loyal kepada satu retail. Lihat saja hasil survei di AS yang menunjukkan bahwa cuma 15 persen konsumen yang selalu datang ke retail yang sama. Oleh karena itulah peretail harus memiliki program loyalty yang kuat untuk mengikat mereka. Program loyalty dilakukan bukan dengan kartu anggota atau kartu diskon semata. Program loyalty harus disusun berdasarkan kebutuhan konsumen yang unik. Oleh karena itu pengumpulan dan penggalian database akan semakin penting bagi peretail. Database yang baik akan menjadi kekuatan menyusun program loyalty.
  5. Co-branding dengan semakin banyak pihak
    Untuk menciptakan program loyalty secara terus-menerus, peretail mau tidak mau harus melakukan co-branding dengan banyak pihak. Co-branding bisa dilakukan dengan sesama partner di dalam industri maupun partner di industri lain. Tujuannya adalah untuk memperkuat dampak promosi yang dilakukan dan mengefisiensikan program-program promosi. Selain itu, co-branding juga membuat kreativitas retail tidak terpaku pada program-program yang konvensional. Indomaret berkerjasama dengan Mandiri mengeluarkan kartu yang bukan hanya menjadi kartu isi ulang tetapi juga bisa dipergunakan untuk membayar listrik dan telepon di toko-toko Indomaret. Artinya Indomaret kini bukan sekadar menjual produk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga point of payment untuk berbagai pembayaran rutin.
  6. Fokus kepada individu dan interaktif
    Di masa depan, konsumen ingin dilihat sebagai individu dan bukan sebagai orang yang sama dengan yang lain. Mereka mengharapkan retail memberikan banyak fleksibilitas bagi konsumen untuk menentukan apa yang mereka mau. Oleh karena itu peretail harus mempersiapkan topping dan fitur yang banyak untuk dipilih oleh konsumen. Seperti halnya eskrim, produknya boleh sama, tetapi konsumen bisa menaruh bermacam-macam tambahan di atas eskrim tersebut. Kalau perlu, konsumen akan terjun langsung ke pembuatannya sehingga mereka lebih bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
  7. Totalitas dalam pelayanan akan menjadi tuntutan konsumen
    Konsumen Indonesia akan semakin melihat pelayanan prima sebagai sebuah keharusan di dunia retail. Menurut survei yang dilakukan oleh Accenture di beberapa negara, ternyata keputusan pembelian nomor satu dipengaruhi oleh pelayanan. Di Indonesia sendiri kesadaran retail di bidang pelayanan sebenarnya sudah bertumbuh, namun demikian komitmen pelayanan ini masih terbatas pada keramahan saja. Padahal totalitas dalam pelayanan mencakup banyak aspek, mulai dari konsumen masuk sampai ke layanan purna jual.
  8. Fast fashion
    Peretail akan menghadapi rentang waktu yang semakin pendek dari sebuah produk untuk menjadi fashion product. Ibaratnya, kalau hari ini konsumen berebut membeli produk yang lagi “in”, maka besok, konsumen berharap produk yang lagi in tersebut sudah berubah. Dengan perubahan yang cepat, peretail harus selalu fleksibel untuk menyediakan item-item baru dalam waktu yang relatif singkat. retail seperti Chico di Inggris selalu menawarkan merchadising baru setiap dua atau tiga minggu. Dengan demikian pengunjung selalu disegarkan dengan tampilan baru.
  9. Green Program
    Kesadaran lingkungan juga akan menghinggapi konsumen retail. Edukasi kepedulian lingkungan seperti global warming akan semakin kuat. Akibatnya konsumen juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Bagi peretail, isu-isu lingkungan harus bisa ditangkap dengan baik dan diterjemahkan ke dalam program peretail. Green program yang sekarang lagi tren dijalankan adalah pengurangan penggunaan plastik untuk membawa belanjaan. Carrefour misalnya, sudah mulai menjual kantong yang bisa dipakai terus sehingga tidak membuat pencemaran lingkungan oleh pembuangan plastik berlebihan. Beberapa peretail bahkan memberikan poin tambahan jika konsumen membawa kantong sendiri dari rumah.
  10. Channel retail yang semakin kabur
    Jangan kaget kalau nantinya kita sulit mencari channel yang benar-benar spesialis di satu kategori produk. Kecenderungannya setiap peretail ingin mengikat konsumen sehingga ahirnya mereka berusaha menjadikan retailnya sebagai one stop shopping. Selain itu tuntutan konsumen agar retail menghadirkan sesuatu yang berbeda membuat peretail akhirnya justru menambah item produknya dari berbagai macam kategori. Seperti halnya apotik menjual makanan, toko buah menjual produk rumah tangga. Di luar negeri, hipermarket juga berjualan mobil.

Titik Terlemah Bisnis Franchise di Indonesia

Bisnis franchise saat ini tengah menjadi model bisnis paling popular di negeri ini. Laiknya sebuah mode, system bisnis franchisepun banyak diperbincangkan di mana-mana. Seseorang yang baru mendirikan bisnis resto, terlintas untuk segera memfranchisekan bisnisnya. Begitu juga dengan pebisnis bengkel, pijat refleksi, hingga software komputer. Hampir dipastikan, semua sedang berfikir bisnis apa lagi yang dapat difranchisekan. 

Meski hal ini bukan sebuah kekonyolan, tetapi masyarakat pebisnis hendaknya menyadari bahwa sebuah bisnis dapat difranchisekan jika telah memenuhi syarat yang telah ditentukan. Bukan mengikuti kelatahan belaka. Syarat tersebut, menurut   buku  Franchising the Most Practical and Excellent Way of Succeding : Membedah Tawaran Franchise Lokal Indonesia terbitan Gramedia Pustaka Utama tulisan  Bambang N. Rachmadi, franchisee  outlet McD di Indonesia ini,  menyebutkan bahwa franchise merupakan sebuah system bisnis  atau usaha yang telah terstandar secara baku dan teruji kesuksesannya. Lalu system ini dijual lisensinya ke pihak lain dengan imbalan fee kepada pemilik system tersebut.

Ingat, dalam difinisi di atas ada kalimat yang sengaja diberi penekanan, yaitu teruji kesuksesannya. Bambang N Rachmadi bahkan mendefiniskan secara khusus, bahwa sebuah bisnis difranchisekan karena memiliki kinerja  unggul karena didukung oleh sumberdaya berbasis pengetahuan dan orientasi kewirausahaan yang cukup tinggi dengan tata kelola yang baik, yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain dengan melakukan hubungan kontraktual untuk menjalankan bisnis di bawah format bisnisnya dengan imbalan yang disepakati. Uraian di atas jelas memberikan gambaran khusus mengapa sebuah bisnis difranchisekan, yaitu memiliki reputasi sukses, memiliki standar secara baku baik pengelolaan maupun prosedur layanannya.  Lantas apakah para pebisnis cukup memahami syarat-syarat tersebut dan memahami kriterianya?

Menangkap dengan Tenang 

Banyaknya  pameran bisnis, maupun iklan-iklan yang menawarkan bisnis franchise kepada masyarakat harus disikapi dengan upaya edukasi yang optimal terhadap pelaku bisnis franchise, baik kepada franchisor maupun franchisee. Lembaga terkait seperti Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), konsultan bisnis franchise, dan lembaga pendukung lainya, termasuk didalamnya peran pemerintah yang terkait, harus semakin menyadari bahwa bisnis franchise yang hadir tengah masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Masalahnya adalah apakah ada aturan yang kompatibel untuk mengaturnya? Apakah masyarakat pebisnis sudah teredukasi dengan baik, undang-undangnya memadai, serta ada iklim kondusif yang membuat system bisnis franchise dapat berkembang dan tumbuh seperti yang diharapkan. Ibarat menangkap ikan, para pebisnis harus tetap tenang menangkapnya, dengan keadaan sadar dan penuh perhitungan.

Angin Segar 

Kehadiran system bisnis franchise disisi lain telah memberikan angin segar bagi tumbuhnya ekonomi baru karena adanya duplikasi system bisnis yang memungkinkan sebuah system bisnis dapat berkembang secara cepat dalam waktu yang relative pendek. Lihatlah bagaimana McDonald’s, Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Wendy’s. Atau brand lokal seperti RM Padang Sederhana, Bakmi Japos, Ayam Bakar Wong Solo,  Es Teler 77, Alfamart, Indomart, dan ratusan merek lokal lainnya yang telah berkembang dan berbiak  menjadi menggurita dengan system bisnis ini dalam waktu singkat ke seluruh tempat.

Banyak pihak berpendapat, kelebihan system bisnis ini memungkinkan seseorang yang ingin berbisnis serupa tidak usah terlalu repot-repot menjalani proses trial and error yang dijalani bertahun-tahun dan dengan biaya yang tidak sedikit. Tetapi pihak lain mengungkapkan argumentasinya bahwa untuk menggunakan system bisnis franchise pada sebuah produk atau merek harus teruji kehandalanya. Seberapa jauh keandalan dan reputasi itu, waktu yang menentukan. Bukan dua, tiga atau lima tahun, yang merupakan waktu-waktu yang pendek   untuk rentang sebuah usaha disebut teruji kehandalannya.

Apapun, kesadaran masyarakat memahami bisnis franchise lebih penting agar sinergi diantara franchisor dan franchise dapat saling menguntungkan dikemudian hari. Para franchisorpun tidak serta merta menginginkan usahanya berbiak dengan mengabaikan syarat untuk menetapkan franchisee yang baik. Syarat tersebut diantaranya adalah menetapkan bahwa franchisee juga harus memiliki kreatifitas  dan inovatif yang didasari semangat kewirausahaan dalam menjalankan bisnisnya,  dan harus tunduk pada kriteria-krieteria yang ditetapkan oleh franchisor.

Tujuannya agar standarisasi merek bisa tetap terjaga. Jangan sampai ada sebuah upaya seseorang yang memfranchisekan bisnisnya tetapi ia sendiri masih harus berjuang bagi keberlangsungan bisnis yang dijalankannya. Jangankan tentang support bisnis, SOP,  atau standarisasi, dan sebagainya, masih banyak pebisnis yang produknya masih belum teruji dan belum memiliki reputasi bisnis tetapi sudah berani menjualnya dengan system franchise. Tentu itu sah-sah saja, dan inilah titik terlemah system bisnis franchise di Indonesia.

Source

Tips Sukses Bisnis Kuliner

Seiring iklim wirausaha yang semakin membaik, banyak usaha yang berkembang dan mendulang sukses. Semakin terbuka peluang usaha yang menjanjikan dan memberi peluang keuntungan. Diantaranya bisnis kuliner. Ketatnya persaingan usaha makanan dan minuman ini tak menyurutkan mereka yang serius dan profesional menekuninya.

Sebagai panduan, berikut beberapa pertanyaan dalam memilih bisnis kuliner sebelum menekuni peluang yang menjanjikan ini:
  • Produk (makanan dan minuman) yang akan dijual? Makanan sekali-kali atau sehari-hari? 
  • Konsumen pasar dari produk yang akan dijual? 
  • Waktu penjualan (kapan konsumen mengkonsumi produk yang ditawarkan)? 
  • Fungsi makanan yang dijual bagi konsumen? 
  • Operasional pelayanan seberapa cepat produk Anda dapat disajikan ke konsumen? 
  • Harga jual produk? 
  • Pengembangan produk (apakah produk yang akan dijual dapat dikembangkan sehingga ada pilihan produk lain yang akan ditawarkan ke konsumen? 
  • Invesati (besaran dana yang dibutuhkan untuk memulai usaha)? Nilai investasi harus dihitung berdasarkan volume penjualan dan keuntungan yang didapat. Semakin tinggi investasi akan semakin tinggi pendapatan penjualan yang diharapkan. 

Ketatnya persaingan di bisnis kuliner memaksa setiap pelaku usahanya untuk bekerja ekstra demi meraih loyalitas konsumen. Mau tak mau, mereka harus lebih jeli dalam melihat pasar, mengemas produk yang ditawarkan, hingga menghadapi perilaku pesaing usaha.

Berikut beberapa tips demi memenangkan persaingan di bisnis kuliner:

Para pemilik usaha kuliner harus mengetahui secara lebih detail tentang konsep dari usaha yang dijalaninya, yaitu:
  • Produk: kekuatan dari produk yang djual, mulai dari bahan dasar, cara pengolahan dan penyajiannya.
  • Harga: harga yang ditawarkan untuk konsumen tertentu dan diwaktu tertentu.
  • Menu: komposisi dan pilihan menu yang tersedia untuk masing-masing segmen konsumen.
  • Pelayanan: menginformasikan berbagai jenis layanan yang tersedia untuk konsumen.
  • Fasilitas: menginformasikan fasilitas yang tersedia.
  • Lokasi: menginformasikan lokasi usaha kepada konsumen.

Kemudian kenali pesaing usaha untuk masing-masing komponen konsep yang disebutkan di atas, yaitu pesaing berdasarkan produk, harga, menu, layanan, fasilitas dan lokasi.

Rencanakan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengungguli pesaing di masing-masing komponen tersebut dan laksanakan segera mungkin. Setelah dilaksanakan maka komunikasikan dan promosikan kepad para konsumen agar mereka mengetahuinya. Dan lakukan hal ini secara terus-menerus minimal evaluasi ini dilakukan setiap 6 bulan sekali.